Menko Darmin Beberkan Kronologi Impor Beras

287
Darmin Nasution
Menko Perekonomian Darmin Nasution. (foto:Istimewa)

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan alasan pemerintah memberikan izin impor beras kepada Perum Bulog. Izin impor tersebut diperlukan mengingat ketersediaan stok beras pada tahun lalu berada di bawah batas aman.

Menko Darmin menjelaskan bahwa keputusan melakukan impor beras itu pada kuartal III 2017 saat harga beras mulai naik dan persedian di Bulog 978.000 ton, sedangkan kebutuhan nasional per bulannya 2,3-2,4 juta ton.

“Keputusan melakukan impor pada saat itu mendapat kritikan tajam dari berbagai pihak, sehingga pada 15 Januari 2018 saya melakukan rapat koordinasi,”  kata Darmin saat konferensi pers di Kantor Presiden Jakarta, Kamis (20/9).

Loading...

Baca juga: Ribut Impor Beras, Fahri Sebut Komoditas Politik Jelang Pemilu

Darmin mengungkapkan bahwa dalam rakor diketahui persedian Bulog pada saat dicek yang tadinya stok itu 978.000 ton, itu tinggal 903.000 ton. “Berarti dalam 10 hari berkurang 75 ribu ton. Kenapa? Karena harus operasi pasar karena harga naik,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, harga beras medium di pasar mencapai Rp11.300 per kg dari harga yang dipatok pemerintah Rp9.450 per kg.

“Jadi udah jauh di atas, itu masih 15 Januari artinya panen masih Maret. Panen raya itu biasanya Maret, bisa-bisa April,” tuturnya.

Melihat jumlah ketersediaan stok beras yang telah menipis, pemerintah memutuskan untuk memberikan izin impor beras tahap pertama sebanyak 500 ribu ton.

“Jangan mengira 903 ribu ton itu banyak. Artinya 903 ribu ton itu lebih sedikit dari 10 hari. Jadi (kita) impor 500 ribu ton,” kata Menko Darmin.

Namun demikian, Menko Darmin menyayangkan, impor 500 ribu ton yang diperkirakan bakal masuk pada akhir Februari 2018 itu, nyatanya tidak kunjung datang. Sebab, negara asal yang menjadi tujuan Indonesia untuk mengimpor beras tersebut juga belum mengalami masa panen.

Pada 19 Maret 2018, lanjutnya, pihaknya kembali mengadakan rapat koordinasi dan diketahui persedian Bulog tersisa 590 ribu ton, sehingga kembali memberikan ijin impor 500 ribu ton.

“Kita rapat 19 Maret. Stok kita 590 ribu ton harga Rp 11.044 per liter, turun sedikit karena operasi pasar jalan terus. Tetapi pada waktu 15 Januari, karena katanya 13,7 juta ton produksi 3 bulan, kita kemudian memutuskan Bulog harus bisa serap 2,2 juta ton paling lambat akhir Juni. Artinya panen raya lewat, dengan harapan 2,2 juta ton itu akhir tahun kita pengadaan Bulog mendekati bisa 3 juta. Sehingga waktu itu kan kita putuskan 500 ribu ton 15 Januari,” paparnya.

Kemudian, pada 28 Maret 2018, pemerintah kembali menggelar rakor lanjutan dengan sejumlah kementerian terkait. Rakor itu untuk memastikan dan mempertimbangkan berapa banyak serapan produksi gabah yang bisa dikonversikan menjadi beras.

“Kita pada 28 Maret rapat lagi, karena panen raya mestinya sudah mau habis waktunya. Panen raya Maret kan. Dia bilang produksinya 6,5 juta ton Maret. Itu proyeksi. 28 Maret memang stoknya sedikit naik menjadi 649.000 ton. Tapi ya enggak ada apa-apanya udah. Itu panen raya mau habis, siapa yang percaya bahwa ini akan baik-baik saja ke depannya?” kata Menko Darmin.

“Sehingga kita putuskan impor 1 juta ton, harga waktu itu Rp 11.036, medium loh ini. Berarti impornya berapa? 2 juta ton. Nah Itu dia yang soal impor,” imbuhnya.

Secara keseluruhan, pemerintah telah mengeluarkan izin impor sebanyak tiga kali. Pada Januari sebesar 500 ribu ton, kemudian Maret 500 ribu ton lagi. Lalu fase berikutnya pada April 1 juta ton.

Langganan berita lewat Telegram
loading...
1
2
Loading...
loading...

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN
[vc_row tdc_css="eyJwaG9uZSI6eyJkaXNwbGF5Ijoibm9uZSJ9LCJwaG9uZV9tYXhfd2lkdGgiOjc2NywiYWxsIjp7ImRpc3BsYXkiOiIifX0="][vc_column width="2/3"]

TERBARU

[/vc_column][vc_column width="1/3"][/vc_column][/vc_row]