Belasan Korban Sindrom Rubella Bantu Dinkes Riau Sosialisasikan Imunisasi MR

167
imunisasi
Imunisasi anak (ilustrasi)

PEKANBARU, SERUJI.CO.ID – Belasan orang tua dan anak yang menjadi korban sindrom congenital rubella (CRS) ikut membantu sosialisasi Dinas Kesehatan Provinsi Riau untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya penyakit tersebut.

“Saya sempat sedih dengan lebih banyaknya informasi yang keliru tentang imunisasi MR, sehingga masyarakat sudah terbentuk pola pikirnya duluan untuk menolaknya. Dan itu tidak mudah untuk mengubahnya,” kata Poppi Morina, dari Komunitas Anakku Sayang, pada diskusi publik situasi penyakit campak dan rubella di Kota Pekanbaru, Senin (10/9).

“Hingga kini masyarakat belum teredukasi dengan cukup bagaimana bahayanya CRS dan mudahnya penularan penyakit itu,” imbuhnya.

Loading...

Poppi adalah ibu dari seorang anak yang harus hidup dengan CRS, karena tertular campak sejak diusia kandungan dua bulan. Perempuan yang berprofesi sebagai guru itu menjelaskan, penyakit itu didapatkannya dari kontak dengan seorang siswanya yang baru sembuh dari campak.

Poppi menderita campak saat hamil, dan dokter sudah memperingatkan dampaknya bagi anak. Namun, karena hasil USG menyatakan kondisi bayinya normal dan anak itu sangat dinanti, maka Poppi dan suaminya sepakat tidak akan menggugurkan kandungannya.

Namun, setelah anaknya berusia empat bulan baru dia benar-benar sadar bahwa anaknya tidak bisa mendengar. Penyakit CRS ternyata sudah menyerang syaraf-syaraf pendengaran anaknya, sehingga kedua telinganya tuli.

Dari pengalamannya itu, Poppi kemudian berusaha mengumpulkan korban CRS dan agar mereka saling mendukung sehingga terbentuk Komunitas Anakku Sayang. Jumlah anak yang terdata di komunitas itu ada 104 orang.

“Tapi saya yakin itu belum semua. Masih banyak anak-anak terpapar rubella yang orang tuanya menutup-nutupi. Saya sedih sekali melihatnya, kalau orang tua mereka meninggal, siapa yang akan mengurus mereka nanti,” katanya.

Ronaldo Purba, orang tua yang juga anaknya terdampak CRS, mengatakan istrinya tidak mengetahui bayi dikandungannya terserang rubella hingga sudah lahir dengan kondisi salah satu bilik jantungnya bocor. Ia terus berusaha melakukan tindakan medis dengan melakukan operasi jantung dan berhasil, namun ternyata dampak CRS juga menyerang pendengaran anaknya.

Dokter memvonis anaknya tuli, dan untuk mendengar normal butuh bantuan alat yang tidak murah.

“Alat bantu dengar yang sekarang kurang berhasil. Ada alat yang bagus tapi harnya mahal, satu buah Rp210 juta,” katanya.

Langganan berita lewat Telegram
loading...
1
2
Loading...
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN
[vc_row tdc_css="eyJwaG9uZSI6eyJkaXNwbGF5Ijoibm9uZSJ9LCJwaG9uZV9tYXhfd2lkdGgiOjc2NywiYWxsIjp7ImRpc3BsYXkiOiIifX0="][vc_column width="2/3"]

TERBARU

[/vc_column][vc_column width="1/3"][/vc_column][/vc_row]