Pegawai UIR Yang Diduga Hamili Siswi SD Belum Ditahan Polisi

356
pencabulan anak
ilustrasi

PEKANBARU, SERUJI.CO.ID – Penyidik dari Kepolisian Resor Kota Pekanbaru hingga Sabtu (1/9), belum menahan oknum pegawai tata usaha sebuah perguruan tinggi swasta (PTS) terkemuka di Provinsi Riau, yang diduga melakukan pencabulan terhadap siswi SD hingga korban mengalami trauma dan hamil.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Pekanbaru Kompol Bimo Aryanto mengatakan, pihaknya pada Jumat (31/8) telah menangkap pelaku berinisial RP alias Ramli di rumahnya. Namun, saat ditangkap, oknum pegawai Universitas Islam Riau (UIR) itu mendadak diserang penyakit jantung.

Oleh sebab itu, kata Bimo, pelaku tidak dapat langsung digelandang ke Mapolresta Pekanbaru guna penyelidikan, tetapi dibawa ke rumah sakit. “Sekarang dia masih di rawat di Rumah Sakit Syafira Pekanbaru,” katanya.

Loading...

RP merupakan salah satu dari dua terduga pelaku perbuatan tidak senonoh terhadap siswi SD. Selain RP, pelaku lainnya diketahui berinisial US (60). Keduanya merupakan pegawai tata usaha pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di UIR.

Terkait dengan pelaku US, pihaknya masih dalam penyelidikan. Kendati demikian, polisi berupaya secepatnya menangkap US untuk kepentingan pemeriksaan kasus tersebut.

Kasus dugaan pencabulan yang dialami bocah yang masih duduk di bangku kelas VI SD itu terungkap saat kondisi fisik korban mulai membesar. Ketika diperiksa oleh dokter, ternyata korban telah hamil 7 bulan. Kasus ini kini menjadi perhatian Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak Riau (LBP2AR).

Rosmaini, Ketua LBP2AR, mengatakan bahwa dua pelaku itu melakukan hal itu di berbagai tempat, termasuk hotel. Modus kedua pelaku adalah menjemput korban sepulang dari sekolah. Kedekatan antara korban dan pelaku membuat korban dengan mudah diperdaya.

Rosmaini mengatakan bahwa pelaku RP merupakan tetangga korban yang setiap hari selalu berkomunikasi, baik dengan korban maupun keluarga. Ia menjelaskan bahwa US bukan orang lain bagi korban, bahkan masih memiliki hubungan darah.

“Perbuatan asusila ini sudah dilakukan sejak awal tahun 2018,” kata Rosmaini.

Untuk menutupi perbuatannya, mereka mengiming-iming korban dengan uang jajan. Rosmaini juga mengapresiasi langkah polisi yang bertindak cepat menindaklanjuti laporan orang tua korban dan dirinya. (ANT/SR01)

Langganan berita lewat Telegram
loading...
Loading...
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN
[vc_row tdc_css="eyJwaG9uZSI6eyJkaXNwbGF5Ijoibm9uZSJ9LCJwaG9uZV9tYXhfd2lkdGgiOjc2NywiYWxsIjp7ImRpc3BsYXkiOiIifX0="][vc_column width="2/3"]

TERBARU

[/vc_column][vc_column width="1/3"][/vc_column][/vc_row]