Parkir Liar di Jalur Pembangunan Flyover Soekarno-Hatta Bikin Macet

0
9
jembatan layang Soekarno-Hatta
Pengerjaan flyover Jalan Soekarno Hatta-HR Soebrantas, Pekanbaru. (foto:Istimewa)

PEKANBARU, SERUJI.CO.ID – Keberadaan parkir liar di sekitar lokasi pembangunan “flyover” atau jembatan layang Soekarno-Hatta. Kota Pekanbaru, Provinsi Riau memperburuk kemacetan arus kendaraan, terutama pada jam sibuk seperti pagi dan sore.

Pantauan di persimpangan empat jalan Soekarno-Hatta Mall SKA Pekanbaru, Kamis (28/6) sore, kemacetan panjang terjadi hingga mencapai lebih dari satu kilometer.

Sejatinya, dengan tanpa keberadaan parkir liar, tepatnya depan pusat perbelanjaan Mall SKA Pekanbaru, kemacetan panjang kerap terjadi sejak pembangunan jembatan layang itu dimulai Maret 2018.

Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Dinas Perhubungan juga sebenarnya telah memasang rambu-rambu dilarang parkir di lokasi itu. Namun, keberadaan parkir liar, yang mayoritas diisi oleh kendaraan roda empat marak terjadi.

Hasilnya jelas kemacetan semakin parah, terutama pada pagi dan sore hari. Selain itu, ketiadaan aparat baik Dinas Perhubungan maupun Kepolisian menyebabkan arus lalu lintas semakin tidak terkendali dan saling serobot satu dengan lainnya.

Sejumlah warga yang kerap melintasi jalan tersebut sangat mengeluhkan kondisi itu. Syaiful, seorang karyawan swasta mengaku dirinya tidak memiliki pilihan lain lantaran pembangunan jalan layang dilakukan bersamaan di dua lokasi berbeda.

Pembangunan kedua jembatan layang juga berada di ruas jalan yang sama, tepatnya simpang empat Mall SKA dan simpang empat Pasar Pagi Pekanbaru.

“Intinya jika parkir liar bisa ditertibkan, saya rasa kemacetan bisa sedikit berkurang. Hanya saja tinggal mau apa tidak menindak kendaraan yang parkir sembarangan di sana,” kata pria 30 tahun itu.

Pemerintah Provinsi Riau menggelontorkan anggaran sebesar Rp240 miliar untuk membangun dua jembatan layang yang diharapkan dapat mengurai kemacetan di dua lokasi tersebut.

Jembatan layang di Simpang SKA menelan anggaran Rp159,38 miliar dengan spesifikasi jembatan sepanjang 625 meter, lebar 18 meter dengan masa pengerjaan selama 10 bulan.

Sementara jembatan layang di Pasar Pagi Arengka sepanjang 425 meter senilai Rp78,3 miliar.

Pemerintah dan pihak terkait sebenarnya telah menyiapkan sejumlah jalur alternatif seperti Jalan Bhakti, Jalan Rambutan, Jalan Melayu, Jalan Melayu, dari Panam, Pasar Pagi Arengka, Jalan Kamboja Jalan Anggrek.

Namun, jalan alternatif yang dimaksud juga tidak banyak membantu pengendara karena kerap terjadi kemacetan. (Ant/SR01)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BACA JUGA