PEKANBARU, SERUJI.CO.ID – Meningkatkan curah hujan di Sumatera Barat dalam beberapa waktu terakhir, membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau mengantisipasi banjir kiriman dari provinsi tetangga tersebut.
“Tingginya curah hujan di Provinsi Sumatera Barat secara tidak langsung berdampak terhadap peningkatan debit air di bendungan PLTA Koto Panjang di Kabupaten Kampar,” kata Kepala BPBD Riau Edwar Sanger di Pekanbaru, Ahad (14/10).
Ia mengatakan, jika debit air tidak lagi memungkinkan ditampung, maka pintu-pintu air di PLTA Koto Panjang harus dibuka.
“Akibatnya, air akan terus bergerak ke hilir mengikuti aliran sungai yang berpotensi besar merendam ribuan rumah warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai di Kabupaten Kampar,” jelasnya.
Pada umumnya, kata Edwar, banjir di Riau, terutama di Kampar, adalah kiriman dari provinsi tetangga.
“Sekarang curah hujan di hulu PLTA Koto Panjang sudah tinggi. Ini yang kita waspadai,” kata Edwar.
Edwar meminta masyarakat, terutama yang tinggal di sepanjang bantaran sungai di Kabupaten Kampar, terus waspada terhadap kemungkinan banjir.
“Kami juga minta kepada perangkat desa untuk terus berkoordinasi dengan jajarannya di lapangan, yang terlebih dahulu telah diperintahkan untuk meningkatkan sosialisasi ke masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, Edwar juga meminta BPBD Kampar meningkatkan koordinasi, terutama dengan pengelola PLTA Koto Panjang.
“Kawan-kawan di BPBD Kampar juga sudah komunikasi dengan PLTA Koto Panjang. Biasanya PLTA memberikan pemberitahuan jika ada buka pintu buangan. Tapi sejauh ini belum ada buka pintu buangan,” ujarnya.
Saat ini, volume air di waduk PLTA Koto Panjang memang mengalami peningkatan. Tak tertutup kemungkinan ada pembukaan pintu air.
“Kalau di Sumbar hujan terus-terusan, volume air meningkat, maka pintu buangan akan dibuka. Tentu ada pemberitahuan terlebih dahulu,” ujarnya.
Terkait dengan peningkatan kewaspadaan, ia memastikan jajarannya di Kampar telah menyiagakan sejumlah peralatan SAR, seperti perahu karet dan tenda darurat.
Elevasi air waduk PLTA Koto Panjang meningkat karena curah hujan tinggi di wilayah Sumatera Barat. Namun, pintu buangan belum dibuka. Pengelola waduk belum mengeluarkan peringatan pintu buangan (spillway gate).
Manajer Pusat Listrik Unit Pembangkit Koto Panjang Muhammad Rusdi mengatakan tinggi elevasi air pada Jumat (12/10), pukul 10.00 WIB, tercatat 79,46 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kenaikan elevasi rata-rata dua centimeter per jam.
Waduk itu masih bisa menampung 4,5 meter kenaikan elevasi yang artinya sejauh ini daya tampung waduk masih cukup menampung debit air yang datang dari hulu. Pihaknya terus memantau kenaikan elevasi.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengendalian Operasi BPBD Kampar Adi Chandra menjelaskan pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah guna mengantisipasi bencana yang sering melanda pada akhir tahun tersebut.
“Selain banjir, kita juga mengantisipasi longsor, terutama di jalur utama yang menghubungkan Provinsi Riau dan Sumatera Barat,” kata Adi.
Terkait dengan potensi longsor di wilayah Kampar, ia mengatakan terus berkoordinasi dengan pihak terkait lainnya, termasuk menyiagakan alat berat di areal potensi longsor, di Kecamatan Kuok.
Selama ini, jalan lintas utama yang menghubungkan dua provinsi bertetangga tersebut sering longsor. Hal itu disebabkan tebing-tebing batu yang curam, sedangkan tebing bebatuan itu menjadi sasaran para penambang ilegal.
“Tak jarang longsor yang terjadi di wilayah itu menjadi masalah utama, terutama pendistribusian dan pemenuhan sembilan bahan pokok yang sebagian dipasok dari Sumatera Barat, pungkasnya. (SR01)