Menyambut Gubernur Baru di Bumi Lancang Kuning

275

Faktor Sosok TNI

Sementara Calon Wakil Gubernur Edy Natar Nasution pada Januari 2018, sesaat sebelum dirinya memutuskan pensiun dini dari TNI dan meninggalkan jabatannya sebagai Komandan Korem 031 Wirabima untuk berkarir di politik pernah mengungkapkan kepada Antara. Jenderal bintang satu ini saat itu mengungkapkan bahwa sudah lama dirinya diminta masyarakat dan kawan-kawannya di Riau untuk maju dalam Pemilihan Gubernur Riau.

Edy Nasution mengaku memiliki hubungan emosional yang kuat dengan masyarakat Riau karena lahir di Kabupaten Bengkalis pada 21 Mei 1961, dan hubungan itu terus dijaga meski dirinya berdinas di daerah lain. Dan tawaran itu makin kuat di penghujung masa karirnya yang akan pensiun pada 2019.

Loading...

“Tahun 2019 adalah akhir dinas saya di TNI, lalu ada keinginan dari teman-teman dan masyarakat yang ingin sandingkan saya dengan salah satu calon di Pilgub Riau. Saya coba telaah kalau itu keinginan dari masyarakat, saya akan pelajari dan kasih saya waktu untuk memutuskan karena jangan asal saja ditemukan dengan Si A, Si B dan C,” kata Edy kala itu.

Menurut dia, ada alasan kuat mengapa memilih untuk bersama Syamsuar. “Saya bangun komunikasi dengan Syamsuar bukan setelah saya jadi Danrem. Komunikasi jalan terus meski saya dinas di luar Riau,” kata lulusan Akmil 1984 ini.

Tidak bisa dipungkiri bahwa hadirnya sosok dengan latar belakang TNI menjadi pendongkrak elektabilitas pasangan nomor urut 1 ini. Berdasarkan data dari Polmark Indonesia, konsultan politik pemenangan Syamsuar-Edy Nasution, elektabilitas Syamsuar sebelumnya sangat rendah sebelum memilih calon wakil gubernur.

Baca juga: Pengamat: Latar Belakang TNI Tingkatkan Elektabilitas Syamsuar-Edy

Dari hasil survei Polmark pada Mei 2018, Syamsuar yang saat itu masih sendiri hanya punya elektabilitas sekitar 8,5 persen. Namun, ketika memilih Brigjen TNI Edy Natar Nasution sebagai calon wakil gubernur, elektabilitas kedua sebagai pasangan naik pesat ke 24,3 persen.

Dalam pertemuan di Pekanbaru, Kamis (28/6), Edy mengatakan salah satu kunci kemenangan pasangan tersebut adalah strategi pada bulan Ramadhan. Saat kampanye berlangsung pada bulan suci umat Muslim itu, hasil survei menunjukan elektabilitas pasangan tersebut naik hingga 39,6 persen.

Dan strategi tersebut tidak perlu menggunakan politik uang karena bagi Edy, kemenangan tidak selamanya perlu dana yang besar asalkan efektif. Alhasil, selama kampanye, Edy sangat jarang berkampanye bersama Syamsuar. Keduanya bagi-bagi tugas, dan Edy punya tugas khusus untuk memecah suara di Kota Pekanbaru yang selama ini menjadi kekuatan suara Wali Kota Pekanbaru Firdaus dan Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman, yang notabene adalah rivalnya di Pilgub Riau.

Pekanbaru punya peran strategis karena daerah itu punya jumlah pemilih yang besar dan lebih rasional. Edy kemudian berkampanye dengan cara bergerilya dari masjid ke masjid selama bulan Ramadhan.

“Saya dan tim mengunjungi 112 masjid yang berbeda. Shalat subuh di masjid satu, dzuhur di masjid lain, hingga tarawih di masjid lainnya. Ternyata langkah ini signifikan, ditambah faktor lainnya juga. Ini dorongan luar biasa,” katanya.

Edy dengan ketegasan khas perwira TNI juga sejak awal kampanye sangat menjauhi politik uang. Ia secara pribadi ingin memberikan pendidikan ke masyarakat agar demokrasi di Riau bisa berkelanjutan dengan lebih baik dan secara transparan.

“Kami berani katakan, Paslon 1 tidak mernah money politic dan bagi-bagi sembako. Kalau ada, itu pasti bukan Paslon 1. Kalau ada yang sebut itu Paslon 1, maka itu fitnah. Kami ingin naik secara elegan, tak ingin membodohi masyarakat,” kata Edy Nasution. (Ant/SR01)

Langganan berita lewat Telegram
loading...
1
2
3
Loading...
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN
[vc_row tdc_css="eyJwaG9uZSI6eyJkaXNwbGF5Ijoibm9uZSJ9LCJwaG9uZV9tYXhfd2lkdGgiOjc2NywiYWxsIjp7ImRpc3BsYXkiOiIifX0="][vc_column width="2/3"]

TERBARU

[/vc_column][vc_column width="1/3"][/vc_column][/vc_row]